Sunday, February 28, 2010

Cerpen Susi : Bulan Masih Temaram


Iseng-iseng buka file lama, dan aku menemukan banyak sekali puisi, cerpen dan novelet lama yang aku buat sebelum menikah dulu. Lucu, haru, campur aduk. Maklum, kebanyakan inspirasi berasal dari dua episode remaja, yaitu jatuh cinta dan putus cinta.

Jika diingat-ingat, aku cukup heran dengan imaginasiku yang berkembang terlalu jauh. Hehe ... semoga enjoy, ya ... maaf jika mungkin tidak bagus dan merasa sia-sia karena meluangkan waktu membacanya. Mohon komentarnya, ya .... moga aja bisa mendapat cambuk untuk berkarya kembali. *_*

*************************************

Bulan masih temaram. Tak sedikitpun semangat tersisa padaku untuk menghabiskan malam yang m ulai dingin. Saat ini aku hanya ingin waktu stagnan di satu titik. Di satu masa. Pada detik ini juga.

Takut masih bersemayam di diriku melihatmu tak jua beranjak dari tempatmu berbaring. Sampai kapan aku harus menunggumu mengerti bahwa yang aku butuhkan saat ini adalah pelukmu.

Bulan masih stagnan di satu titik di sudut jendela kamar. Dan aku masih menunggu kesadaranmu pulih. Kau bergeser dari tidurmu dan memelukku, membuang semua takutku.

“Mas, sampai kapan kau akan tidur seperti ini?”, ujarku lirih takut membuatmu terkejut dengan suaraku setelah sekian lama kebisuan berkuasa. “Sebentar lagi malam akan berganti fajar, dan kita akan menjadi dua makhluk tak saling kenal. Kapan kau akan mengerti?”

Kau bergunam tak jelas karna masih dikuasai kantuk. Kau terlalu lelah menghadapi kehidupanmu yang tak pernah berhenti menghimpit.

“Aku ingin menghabiskan malam ini dengan semua keindahan, bukan keluh kesah. Tak bisakah kau mengerti?”, kataku yang telah mulai ternoda oleh amarah. “Tak adakah sedikit kehangatan malam ini?”

Masih dikuasai oleh kantuk, kau bergunam tak mengertikah aku akan keadaannya. Dia hanya ingin beristirahat sejenak menghimpun kembali tenaga berharap aku tetap dewi yang selalu mengerti keadaannya seperti dulu.

“Pengertian apa lagi yang kau minta dariku? Tak pernah puaskah kau akan pengertianku? Masihkah kau meragukannya? Tak berhak lagikah aku atas pelukmu”, ujarku masih dengan menahan amarah. Dan tanpa kusadari aku telah kalah. Air mata yang paling aku benci perlahan menetes. “Seribu hari aku menunggumu. Seribu hari aku menahan rinduku. Dan seribu hari aku memimpikan saat ini.”

Perlahan kau bangkit dan mendekatiku. Memelukku. Memberikan kehangatan yang telah lama aku nanti. Kau berusaha membujukku menghapus air mata karna kau benci air mata. Air mata adalah kelemahan manusia, dan karena air mata kita mengalami semua derita. Kau tak ingin aku menangis seperti temanku yang akhirnya menjadi istrimu karena air mata yang tak pernah berhenti mengalir. Kau ingin dunia tak pernah mengenal air mata.

“Air mata ini adalah semua penantianku atas malam ini. Tak pernahkah kau mengingatku selama setahun ini? Tak pernahkah kau begitu dikuasai nafsu untuk bertemu? Tak perduli rintangan apapun akan kau terjang?”

“Tak pernah aku tak mengingatmu. Betapa kau adalah kesempurnaan pasangan hidup yang selalu ku impikan. Hanya itukah jawaban yang bisa kau berikan atas semua tanyaku? Seandainya...”

Tak ada seandainya katamu. Tak ada seumpama karna kita hanya permainan nasib katamu. Seandainya ada kata seandainya waktu itu, tak akan ada penderitaan yang harus kita rasakan. Tak ada ketakutan yang mengganggu kita. Tak ada perpisahan yang berat terjadi pada kita.

Perlahan waktu membawa kita pada satu dongeng yang pernah disodorkan pada kita.

Suatu hari yang dingin di puncak gunung Merbabu aku dan kau pertama kali merasakan keberadaan cinta setelah berpuluh gunung kita daki bersama. Awan yang masih bergulung dicat dengan sinar matahari memancarkan keindahan aneka warna menyadarkan kita bahwa beraneka cerita telah sama-sama kita nyanyikan seiring dengan luka-luka yang kita derita karna penghianatan kekasih telah menjadi pengikat jiwa-jiwa lelah kita. Betapa semua keindahan yang kita damba ada di depan mata. Dan kita berdua tertawa. Menertawakan kebodohan kita karna tak menyadari perjodohan yang disodorkan nasib pada kita.
Keindahan Kenteng Songo yang berhias sunrise membawa kita pada satu optimisme bahwa suatu hari kita kan bersatu di pelaminan. Memberi banyak kekuatan untuk menghadapi luka. Kita, yang satu detik sebelum berbaring menunggu matahari terbit memamerkan keindahan masih dapat berkata dengan lantang bahwa kita adalah sahabat saja tiba-tiba harus tertunduk malu mengakui lahirnya sebuah cinta.
Betapa waktu telah memperdaya kita. Mungkin tak pernah terbersit sedikit pun di angan kita bahwa ritual curhat yang selama ini kita lakukan telah berbalik arah dan melahirkan getar-getar indah.
Namun betapa waktu pulalah yang telah menghianati kita. Waktu telah memberikan kerinduan pada sebuah jiwa lain yang telah menanti kehadiranmu. Jiwa lain yang telah merampas keberadaanmu di masa indahku.
Kebahagiaan kita menikmati cinta tak lebih lama dari intensitas persahabatan kita karna kau harus tetap bersamanya. Dan aku yang telah terlatih hidup penuh onak takkan pernah mau menahanmu dengan air mata seperti air matanya yang tak pernah berhenti mengalir begitu menyadari kekasih yang telah dikhianatinya berpindah hati. Betapa ego telah menjadikannya budak nafsu untuk memilikimu. Dengan semua muslihat yang ada.
Kau yang tak pernah tahan menghadapi air mata. Kau yang begitu takut menghadapi kelemahannya. Dan kita berdua terhempas dalam sebuah episode perpisahan setelah semua diskusi panjang yang melelahkan seakan malam takkan pernah berakhir kita membicarakan semua kemungkinan bagi kita tetap bersama.
Adalah bukan nafsu semata ketika kita setuju bertemu satu hari dalam satu tahun untuk menghormati dan tetap memberi kehidupan pada cinta kita yang telah kuat berakar. Semalam dari 364 malam kebersamaanmu bersamanya kita bersatu.

Dan di sinilah kita, berdua. Melihat kembali kehidupan cinta kita. Menjaganya dari padam. Di sinilah kita memuaskan semua kerinduan kita. Mendengarkan ingatan kita kembali bercerita tentang masa lalu kita. Tiba-tiba aku menyadari pelukanmu telah semakin erat. Mungkin kau ingin memberi aku kekekuatan untuk menghadapi kenyataan esok hari.
“Waktu diam-diam bergulir meninggalkan kita yag telah stagnan pada episode masa lalu. Waktu telah berada di titik 3.00. Berapa lama lagi waktu yang kita miliki sebelum kau menjadi suaminya dan aku menjadi nyonya lain?”
Kau semakin mengeratkan pelukanmu.

Semarang, 7 Februari 2000

3 comments:

Desy Noer on March 1, 2010 at 10:49 AM said...

wah...luar biasa!

susi on March 3, 2010 at 11:30 AM said...

Terima kasih. Tapi apanya yangluar biasa?
???? hihi ... bingung

susi on April 1, 2010 at 2:40 PM said...

Tes koment, ya ...
Maklum ... template baru. :d

Post a Comment

Back to

 

Sharing Mama Susi Copyright © 2009 Cosmetic Girl Designed by Ipietoon | In Collaboration with FIFA
Girl Illustration Copyrighted to Dapino Colada