Wednesday, April 15, 2009

Oleh-Oleh Dari Purwokerto


Pulang ke rumah mertua di Purwokerto. Yang paling membuat aku terkesan dan kangen adalah bertemu dengan Mamak (nenek buyutnya Destin dan Binbin). Bertemu dan bercakap-cakap dengan beliau adalah sebuah pengalaman spiritual tersendiri bagiku. Sejak resmi menjadi anggota keluarga, beliaulah yang paling mengerti dan tak sungkan menasehati lengkap dengan bukti.
Aku pulang dari Purwokerto membawa pesan berharga dari Mamak tentang kehati-hatian. Ya, hati-hati. Remeh sekali, bukan? Bahkan kata itu demikian mudah terucap sebagai do’a setiap kali terpisah dari suami yang bekerja atau anak yang bermain ke rumah tetangga.
Sekali lagi, kata sederhana itu berubah menjadi berarti bila ke luar dari Mamak. Petuah-petuah berharga yang dengan lumayan susah payah aku terjemahkan karena aku tidak bisa berbahasa ngapak khas purwokerto. Inilah rangkuman pesan beliau yang aku terjemahkan, Siapa tahu memberikan sedikit pencerahan bagi rekan-rekanita yang kebetulan membacanya.
“Sus, hidup sekarang serba sulit. Pekerjaan sulit di dapat, pahala (gaji) pun semakin sedikit nilainya. Jika dulu pahala satu juta sangat banyak, sekarang sudah tidak sebanyak itu. Semua serba mahal. Tidak ada yang murah. Semua pakai uang.
Jaman sekarang anak-anak terbiasa manja. Aku sering dengar cucu buyut (tinggal di sebelah rumah persis) berdebat dengan ibunya. Meminta lauk macam-macam. Selalu dituruti. Anak tiga tahun sudah mengatur ibunya. Ibunya juga biasa membelikan macam-macam barang untuk anaknya. Banyak yang tidak ada gunanya, hanya membuang-buang uang saja.
Sus, jangan manjakan anakmu dengan berbagai macam mainan yang tidak perlu. Biasakan anak hidup seadanya. Simpan uang dengan baik. Jangan dihambur-hamburkan. Tahan nafsu belanja.
Orang tua kalian tidak memiliki investasi apapun kecuali kalian, anak-anaknya. Jika ada apa-apa dengan kami, kalianlah investasi kami. Karena itu simpanlah uang kalian dengan baik agar kelak kalian punya investasi sendiri ketika tua, tanpa perlu merepotkan anak-anak kalian. Ingat ya, Sus, pesanku ini. Jangan sampai lupa. Praktekkan.
Sampai saat ini aku selalu membiayai sendiri jika sakit. Tidak merepotkan ibu-bapakmu. Tiap hari aku dapat jatah uang Rp 3000 untuk makan dan tiap minggu aku mendapat uang 20 ribu yang aku simpan. Jadi aku selalu dapat membayar uang dokter sendiri. Untuk biaya pemakaman kelak aku sudah memiliki sedikit perhiasan. Itulah gunanya investasi, Sus.”

Ah, Mamak. Nasehatmu selalu membuatku terharu sekaligus malu. Dan yang pasti, sangat ngangeni dan selalu aku tunggu. Aku bangga memilikimu sebagai nenek mertuaku. I love you, Mamak. And I miss you always.

1 comments:

Renny on January 23, 2010 at 8:55 PM said...

simple memang pesannya, tp maknanya dalem bgt mbak..thanks bgt mbak...

Post a Comment

Back to

 

Sharing Mama Susi Copyright © 2009 Cosmetic Girl Designed by Ipietoon | In Collaboration with FIFA
Girl Illustration Copyrighted to Dapino Colada